Perempuan-perempuan yang diculaskan

Setiap Ramadan datang, teve-teve pun bertarung membuat program untuk menguasai penonton. Sinetron Ramadan adalah tayangan yang selalu siap dipertarungkan. Sayang, hampir sepanjang Ramadan, sinetron yang dibuat seluruh teve, selalu meletakkan perempuan hanya sebagai korban!

Sejak lima tahun lalu, sinetron Ramadan memang menjadi magnit paling kuat, menghipnotis penonton di saat menjelang buka. Fenomena ini dimulai dengan populernya Krisdayanti memerankan tokoh Annisa dalam Doaku Harapanku di RCTI, tahun 1998. Tayangan yang mampu menguras airmata ini, seperti jadi sumbu ledak genre baru sinetron di masa Ramadan. Tak heran, di tahun berikutnya, RCTI masih mengusung Krisdayanti melanjutkan cerita yang sebenarnya sudah tamat itu, menjadi Doaku Harapanku 2. Sama, cerita ini pun meledak. Dan begitulah, mulai tahun 2000, muncullah sinetron Doa dan Anugerah lalu dilanjutkan dengan Doa dan Anugerah 2 yang juga masih mengusung Krisdayanti.

SCTV yang membaca gelagat popularitas Krisdayanti, lalu mengusung si cantik Tamara Blezinsky, dengan sinetron Doa Membawa Berkah. Terbukti, Tamara sukses, popularitasnya mampu mendampingi Krisdayanti. Akibatnya, ia pun langanan untuk sinetron Ramadan, dengan mengusung Ikhlas dan yang terbaru Hikmah, di tahun ini.

Untuk pemeran lelaki, nama Anjasmara, Teuklu Ryan, Gunawan, selalu menjadi pilihan. Sedangkan untuk pemeran antagonis, pasti selalu jatuh kepada Lely Sagita. Uniknya, para aktris-aktris pelanggan sinetron Ramadan ini nyaris selalu memerankan karakter yang sama. Celakanya, dengan penghayatan, vokal, dan gestur tubuh yang sama pula. Dengan kata lain, setiap tahun, sebenarnya, penonton hanya disuguhi sinetron fotocopy dari tahun-tahun sebelumnya.

Perempuan korban

Namun, dari sekian kesamaan itu, ada satu hal yang tampaknya sudah menjadi “ideologi” sinetron Ramadan, yakni tokoh perempuan yang dilemahkan. Pelemahan itu bahkan sudah sampai bukan hanya pada taraf lemah secara ekonomi, melainkan juga lemah secara iman. Betul bahwa tokoh utama sinetron Ramadan selalu tokoh perempuan yang kuat iman, dan menjadi “juru dakwah” dalam seluruh cerita. Tapi, nilai jual sinetron Ramadan, selali lagi, nilai jualnya, sesungguhnya diletakkan pada tokoh antagonis perempuan, yang kadang bertindak di luar nalar untuk mewujudkan keinginannya. Kecenderungan pelemahan perempuan ini bahkan kian meningkat, tak cukup lagi hanya dengan satu Lely Sagita!

Tahun ini, “ideologi” itu sudah demikian merasuknya, sehingga untuk menjerat penonton, para tokoh perempuan ditampilkan dengan tingkat keculasan yang tak ternalar. Di sinetron Hikmah misalnya, selain Lely Sagita (Ibu Eli, Ibu Tiri Anna), keculasan itu diwakili oleh Neny Triana (Ratna, Ibu Arman) dan Nina Khairina (Rika). Di sinetron Adam dan Hawa (SCTV), Tety Liz Indriati tampil dengan keculasan yang menggiriskan, dan dikuti Cut Sarah di sinetron Titipan Ilahi (Indosiar), yang keduanya memerankan sosok Ibu tiri. Lucunya, keculasan itu bahkan ditampilkan dengan gestur yang sama dalam tiga sinetron itu berupa cibiran dan gerak mata yang selalu melotot, dan ketiganya menggunakan fitnah dan racun untuk mewujudkan ambisinya. Kemiripan yang terlalu jelas inilah yang membuat kian nyata bahwa keculasan telah menjadi “ideologi” dalam sinetron Ramadan.

Masalahnya adalah, kenapa keculasan itu hanya milik perempuan? Mengapa kedengkian itu hanya menghampiri tokoh perempuan dan sosok ibu tiri? Tak mungkin ini bukan kesengajaan. Tuduhan bahwa ada bias gender dengan alasan skenario ditulis lelaki, jelas tak akan menjadi jawaban, karena Hikmah justru skenarionya ditulis Zarra Zettira. Tampaknya, jawaban atas hal itu hanya bisa didapatkan jika kita menempatkan sinetron sebagai sebuah bandul yang mengganduli nilai mitos di masyarakat.

Mitos –yang berasal dari bahasa Yanani, mutus— berarti cerita yang tidak benar. Dan mitos ini ciptakan untuk membuat masyarakat lebih dapat memperhatikan kehidupan sekitarnya. Artinya, mitos diciptakan bukan untuk dipercaya, tapi agar kita lebih waspada memandang hidup. Namun, perkembangan zaman justru membalik hal ini. Melalui pengukuhan, mitos akhirnya berubah menjadi fakta, cerita yang benar. Dan inilah yang diganduli sinetron. Mitos ibu tiri sebagai sosok yang kejam, yang akan menganiaya si anak tiri, sampai saat ini tetap dikukuhi (SCTV bahkan membuat sinetron Ratapan Anak Tiri). Mitos bahwa wanita lebih gampang tergoda pada harta, sosok yang lemah, pasrah, gampang menangis, dan lemah secara ekonomis, dikukuhi, bahkan diperkuat dengan menciptakan mitos-mitos baru yang senada. Dan sinetron, sebagai produk yang mengharapkan dukungan dari penonton, jelas tidak akan berani menciptakan mitos baru, yang melawan mitos lama. Sinetron pasti akan mengukuhi mitos di masyarakat, agar penonton tak terusik alam sadarnya. Dengan pengukuhan mitos itu, sinetron akan lebih mudah dibuat, lebih mudah ditebak akhirnya, lebih gampang diterima iklan. Bukankah itu ukuran kesuksesan mereka?

Padahal, seperti kata filsuf Prancis Roland Barthes, mitos hanya dapat dilawan dengan mitos. Tanpa itu, mitos akan kian melenggang, dibenarkan secara sempurna. Dan sinetron, dapat dipastikan, akan terus memperkuat mitos, melemahkan perempuan, menculaskannya, dengan tindakan yang kadang di luar nalar. Kita memang harus terus mengelus dada. [Aulia Muhammadaulia@suaramerdeka.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *